Tanaman nyamplung ( L.)
merupakan salah satu tanaman dari famili Clusiaceae yang
mempunyai potensi sebagai bahan baku biofuel dengan
morfologi pohon berukuran sedang sampai dengan 25-35 m,
dengan lateks lengket bening atau buram dan putih, krem atau
kuning, batangnya biasanya pair atau bersandar, sampai dengan
diameter 150 cm, tanpa penopang. Kulit kayu sering dengan
karakteristik seperti berlian, halus, seringkali dengan
kekuningan, kulit kayu bagian dalam biasanya tebal, lembut,
tegas, berserat dan berlaminasi, merah muda menjadi merah,
gelap sampai kecoklatan, ranting dengan empat siku dan bulat
dan gemuk, terminal tunas 4-9 mm. Buahnya bulat seperti
peluru dengan diameter 2,5-3,5 cm berwarna hijau, dan
berwarna coklat bila sudah tua/kering, dengan diameter 25-50
mm, lapisan luar tipis dan kompak, warna keabu-abuan-hijau
dan berkulit halus. Buah seperti batu dengan lapisan keras dan
sering dengan lapisan spons, berisi benih tunggal. Benih dengan
kotiledon besar dan radikula menunjuk ke pangkal buah.
Bunganya majemuk dan berbentuk tandan. Aksila perbungaan,
racemose, biasanya tidak bercabang tetapi kadang-kadang
dengan tiga cabang bunga, 5-15 (maksimal 30) bunga. Bunga
biasanya biseksual tapi kadang-kadang berfungsi kelamin
tunggal, beraroma manis, dengan perianth dari 8 (Maksimal 13)
kelopak bunga di beberapa whorls, biasanya keputih-putihan,
kelopak 4; benang sari banyak, kuning, dikelompokkan dalam
4 bundel, anter berubah dari dalam kuning. Hanya bunga
hermafrodit memiliki ovarium, bola merah muda terang yang
tersisa pada akhir batang ketika kelopak drop. Biji buah keras
dan berwarna coklat. Rata-rata produksi nyamplung mencapai
8-50 kg/pohon, setelah umur lebih dari 20 tahun biasanya
menghasilkan400kg/pohon atau20ton biji/ha/tahun.
Pengendalian serangga hama masih banyak yang menggunakan
pestisida kimia. Penggunaan pestisida kimia dapat
menimbulkan dampak meledaknya populasi hama. Ledakan
populasi hama ini dapat terjadi karena hama dapat menjadi
toleran terhadap inseksida sehingga populasinya tidak
terkendali. Dengan semakin toleran hama terhadap pestisida
akan meningkatkan penggunaan dosis pestisida yang digunakan.
Dampak lain yang ditimbulkan dari penggunaan pestisida kimia
adalah menyebabkan keracunan pada manusia dan
menimbulkan kerusakan lingkungan.
Dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan
pestisida kimia maka membuka
peluang untuk berkembanganya penggunaan pestisida botani.
Penggunaan ekstrak tanaman untuk bahan pestisida untuk
mengendalikan hama bukan merupakan penemuan baru.
Penggunaan ekstrak tanaman untuk bahan pestisida pestisida
sudah banyak digunakan petani walaupun masih dalam skala
kecil. Penggunaan ekstrak tanaman yang paling banyak
digunakan adalah ekstrak tanaman yang mudah dikembangkan
dalam jumlah banyak, tidak berbahaya bagi organisme bukan
sasaran, dan memiliki efek mematikan untuk serangga hama.
Pestisida botani memiliki beberapa kelebihan, diantaranya
adalah mudah terdegradasi, aman bagi organisme bukan
sasaran, mengurangi kontaminasi lingkungan, dan tidak
beracun bagi manusia.
Penggunaan tanaman nyamplung sebagai insektisida botani
belum banyak dilakukan. Padahal telah banyak dilaporkan
bahwa penggunaanya telah mampu membunuh pada beberapa
serangga hama sasaran. Bagian dari tanaman nyamplung yang
banyak digunakan sebagai bahan insektisida botani adalah
bagian minyak dari bijinya. Minyak yang dihasilkan dari biji
tanaman Nyamplung dapat digunakan sebagai pestisida botani
untuk insektisida, repelen, larvicidal, antifeedan dan anti
mikrobia. Dari beberapa penelitian minyak nyamplung dapat
digunakan sebagai insektisida dan antifeedan pada Diacrisia
oblique, Corcyra cephalonica, Cnaphlocrosis medinalis,
Nilaparvata lugens, Sogatella furcifera, dan Spodoptera litura.
Minyak nyamplung hanya bersifat insektisida pada Bemisia
tabaci dan Nephotettix virescens. Penggunaan minyak biji
nyamplung mampu menyebabkan kematian Diacrisia obliqua
sebesar 33.33% sampai dengan 100%. Minyak Nyamplung dapat
juga digunakan sebagai bahan repelen terhadap Stomoxys
calcitrans, Callosobruchus chinensis dan Callosobruchus
maculatus. Sedangkan sebagai bahan anti mikrobia, penggunaan
minyak nyamplung menunjukan hasil yang baik untuk menekan
pertumbuhan mikrobia Staphylococcus aureus dan
Mycobacterium smegmatis. Minyak biji nyamplung juga dapat
digunakan sebagai larvicidal untuk beberapa spesies nyamuk
seperti Culex quinquefasciatus, Anopheles stephensi, dan Aedes
aegypti. Penggunaan minyak nyamplung untuk pengendalian
serangga hama lain perlu dikaji lebih dalam

Comments
Post a Comment